Hai. Bagaimana kabarmu tanpaku? Sudah lama aku tak menyapamu lewat telpon genggammu. Masihkah kau senang bercerita pada langit jingga saat ku tiada? Atau telah ada sepasang telinga yang setia mendengarkan ceritamu yang selalu menderu itu?
Kita cukup lama bersama, ntah berapa banyak cerita yang kita acuhkan begitu saja. Padahal disetiap pertemuan, kita saling menyimpan rahasia. Rahasia yang kita sendiri tak saling mengetahui. Kita pernah tertegun pada suatu waktu. Menafsirkan cerita-cerita, meski bukan melulu tentang cinta. Kala itu, kita menafsirkan bahagia secara sederhana. Dan berkumpul adalah bagian terfavorit kita.
Belakangan ini aku rindu pada canda tawa kita, yang mungkin ku telah lupa bagaimana bunyinya. Yang ku ingat hanya bibirmu yang sewarna wortel dan senyummu dengan deretan gigi manis.
Namun diakhir, pada elegi denting bel euforia sebuah perayaan, kita tak sempat selingi dengan pelukan. Karena ku tak menemukanmu dikeramaian. Tapi ku yakin, kita akan bertemu lagi dikermaian yang berbeda. Dan disitu cerita baru kita akan dimulai.
No comments:
Post a Comment