Sekali waktu pernah ku berbincang dengan salah satu senior di kampus -saat itu masih menjadi mahasiswa baru- tentang banyak hal yang tak ku pahami sebelumnya. Diantara percakapan tersebut ada pesan yang saya ingat sampai sekarang. “Banyak yang salah jalan tapi merasa senang, karena banyak yang sama-sama salah. Tetapi yang terpenting adalah beranilah menjadi benar walau sendirian”, begitu ujarnya.
Seakan menjadi hal yang lumrah di sekitar kita, bahwa saat seseorang melakukan sesuatu hal yang salah asal diikuti banyak orang, itu dianggapnya benar. Nah, paradigma ini yang mesti kita ubah. Kita tak boleh terjebak pada kesalahan-kelasalan yang sama di waktu yang berdeda. Tampil ke permukaan sebagai pembeda (dengan menunjukkan kebenaran) memang dibutuhkan sebuah keberanian yang besar, namun berbalas pahala dariNya. Kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan, diluruskan oleh sebuah kebenaran. Itulah sebab mengapa berbalas pahala.
Mungkin mereka berkata, “Aku tidak tahu” atau “Aku tak mengerti”, mungkin juga “Aku tak memahami”; disinilah peran segelintir orang yang mengetahui untuk meluruskan kembali apa-apa yang dianggap salah. Jadilah kaum golongan yang minoritas, namun tetap pada jalur kebenaran. Sebagaimana firmanNya; “SEDIKIT dari hambaku yang banyak bersyukur” (Surat Saba’ : 13). “Tidak beriman bersamanya kecuali SEDIKIT saja” (Surat Hud : 40).
Terakhir, teringat nasihat dari Ibnul Qayyim -rahimahullah- beliau mengatakan : “Berjalannlah diatas kebenaran, jangan takut dengan sedikitnya orang yang menjalaninya. Dan jauhilah jalan kebatilan. Jangan terperdaya dengan banyaknya orang yang binasa!”. Semoga kita termasuk golongan-golongan yang beruntung.
No comments:
Post a Comment