Akhir pekan awal bulan lalu, saya sedang bertamu ke rumah salah satu teman lama. Tentunya sebelum pertemuan kami saling menghubungi terlebih dahulu agar saling mengosongkan agenda. Kita memang agak lama tak berjumpa, tersebab kesibukan kita masing-masing. Malam itu sungguh beruntung, ternyata tidak hanya saya yang bertamu, si tuan rumah ternyata diam-diam juga menghubungi 3 kawan lagi untuk ikut bergabung dengan kita; yang tentu saja juga kawan lama kita sejak SMP.
Obrolan kita mengalir begitu saja, ada yang bercerita tentang kesibukan saat ini, kemudian tentang gadget yang lagi trend. Hingga diantara kami membincangkan tentang makanan kesukaan kita masing-masing. Salah satu diantara kami memulai pembicaraan dengan makanan favoritnya. Ialah bakso makanan kesukaannya. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya.
Ia menceritakan warung Bakso B yang menurutnya lumayan enak dengan porsi yang cukup, namun tak seramai warung Bakso A. Ia juga menceritakan bahwa pemilik warung Bakso B dulunya adalah pegawai dari warung Bakso A, bahkan, katanya lagi, ia (pemilik warung Bakso B) adalah orang kepercayaannya dari pemilik warung Bakso A yang berhenti bekerja dan membuka warung bakso sendiri. Memang dari segi rasa tidak jauh berbeda, bahkan nyaris tanpa beda. Namun dari omzet penjualan sangat berbeda jauh, ini terlihat dari jumlah pengunjung yang cenderung sepi.
Setelah selesai menceritakan, muncul celetuk dari salah seorang dari kami; itulah bedanya pekerjaan dengan rejeki. Pekerjaan bisa kita tiru, namun rejeki tak bisa kita tiru. Bekerja adalah bentuk iktiar kita, sedang rejeki adalah wilayahNya. Ada kadarnya tersendiri, Tuhan telah menetapkannya untuk kita dan yang pasti rejeki kita tak sama walau pekerjaan kita sama, imbuh salah seorang dari kami.
No comments:
Post a Comment