Dalam hal itu, di kota ini juga terdapat sejumlah wanita yang sudah bersuami tetapi merasa kesepian, atau biasa disebut tante girang
(TG).Mereka biasanya istri seorang pengusaha, pebisnis, bahkan Pegawai
Negeri Sipil (PNS). Rasa kesepian itu dialami mereka lantaran ditinggal
sang suami bekerja dengan waktu yang cukup lama diluar kota.
Makin merebaknya bisnis esek-esekvia online atau situs jejaring sosial seolah-olah memberi kesempatan bagi para tante girang untuk mendapatkan kepuasan nafsu syahwatnya.
Modusnya, setelah mendapatkan calon “jago” (sebutan untuk seorang
gigolo) dari dunia maya, maka dia akan menghubungi nomor telepon yang
tertera untuk bisa langsung berkomunikasi tanpa perantara.
Seperti diungkapkan salah seorang tante girang yang ditemui
HRdi sebuah Toserba di Jl. Perintis Kemerdekaan, Kota Banjar, Senin
malam (05/06/2014). Sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya), usianya
kira-kira 39 tahun.Sambil menyantap makanan ringan yang dipesannya, dia
menceritakan sedikit tentang kehidupan pribadinya.
Mawar mengaku sudah satu tahun lebih ditinggal suaminya yang bekerja
disebuah kapal pesiar. Dalam kesehariannya dia hanya mengurus kedua
anaknya, dimana anak pertamannya kelas satu SMP, dan anak kedua masih
duduk di kelas dua SD.
Aktivitasnya yang berkutat dengan urusan rumah tangga seolah
membuatnya jenuh dan bosan. Hingga akhirnya menemukan seorang pria yang
usianya jauh lebih muda dibanding usianya.
Menurut Mawar, sebagai wanita normal, dirinya pun tidak munafik masih
membutuhkan kehangatan dari seorang pria. “Tapi saya tak perlu cerita
banyak, karena ini sangat pribadi,” ujar Mawar.
Hal serupa juga diungkapkan Mom,(bukan nama sebenarnya), istri
seorang pengusaha, usianya 43 tahun. Dia mengaku menikmati masa puber
saat sang suami sibuk dengan urusan pekerjaannya disebuah perusahaan di
Kalimantan.
Namun, Mom berbeda dengan Mawar yang memelihara “jago,” sedangkan Mom
lebih memilih “jajan.” Hal ini menurutnya salahsatu cara untuk mendapat
kepuasan birahinya.
“Awalnya saya hanya iseng saja buka jejaring facebook dan meng-klik
salahsatu link yang ada iklan gigolonya.Tidak lama kemudian saya pun
berkenalan dengan seorang “jago” dijejaring sosial tersebut. Hingga
akhirnya saya membuktikan sendiri dan mendapat kepuasan dari seorang
gigolo. Tapi saya hanya jajan saja, kalau memelihara nanti malah ribet,”
ujarnya sambil tertawa.
Mom mengaku, untuk satu kali kencang dengan “si jago” dirinya berani
merogoh kocek minimal Rp.500 ribu sampai Rp.1 juta. “Si jago” sendiri
dalam dunia esek-esek tidak jauh berbeda dengan WPS, hanya saja “si
jago” lebih tertutup dan nyaris tidak diketahui aktivitasnya.
Cara beraksi mereka ada yang terorganisir dan ada pula dilakukan
secara sendiri atau independent. Yang terorganisir inilah biasanya
menggunakan jasa mucikari atau germo.
Di lain tempat, HR berhasil menemui seorang GM (sebutan germo “jago)
di Banjar Water Park (BWP). Sebut saja Ray (bukan nama sebenarnya). Dia
mengaku, dengan memelihara “jago” pendapatannya bisa duakali lebih besar
daripada memelihara WPS.
Menurut Ray, rata-rata “si jago” peliharaannya itu sudah memiliki pelanggan tetap, dalam hal ini seorang tantegirang. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi peliharaannya si tante. Meski begitu, namun sang GM tetap mendapat jatah dari “si jago” maupun si tantenya.
“Dalam sebulan saya bisa mendapatkan uang sebanyak tiga sampai lima
juta rupiah, karena bila memelihara jago lebih besar pendapatannya
daripada WPS,” ungkap Ray, yang mengaku memiliki lima “jago.”
Sementara di lain pihak, Ketua MUI Kota Banjar, KH. Munawir
Abdulrohim,saat dimintai tanggapannya terkait dengan fenomena tersebut,
dirinya mengaku sangat prihatin. Menurutnya, perlakuan seperti itu
adalah mutlak haram. Dia pun menyarankan kepada mereka untuk segera
bertaubat.
“Perlakuan seperti itu adalah mutlak haram hukumnya.Segeralah bertobat karena pintu taubat masih terbuka lebar,” kata Munawir.
Dalam dinamika kehidupan modern seperti sekarang ini, kita tidak bisa
menampik dan tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan ekonomi masih menjadi
alasan kuat bagi mereka untuk terjun kedunia hitam. Namun, kita juga
tidak bisa menyebutkan siapa yang salah dan siapa yang benar, sebab
mereka ada karena saling membutuhkan. (Hermanto/Koran-HR)
No comments:
Post a Comment