Kali ini saya mau menceritakan sebuah kisah
inspirasi yang semoga dapat memberikan inspirasi pada teman-teman
sekalian.. :) Kisah ini dimulai di saat seorang anak kecil
bernama Rahmat mengikuti sebuah kompetisi sepeda yang bernama"Cycling Fair".
Ia mengikuti kompetisi ini dengan penuh semangat dengan tujuan dapat
memenangkan kompetisi itu meskipun dengan kondisi sepeda yang dia pakai
sekarang tidak bagus sperti milik peserta lainnya. Saat pertandingan
akan dimulai seorang temannya bertanya, “Mat, apa kamu yakin
Beberapa
saat kemudian bunyi peluit tanda pertandingan dimulai pun telah ditiup “Priiiitttt”.
Para peserta pun mulai mengayuh sepedanya masing-masing dan melaju
dengan cepat. Diputaran pertama, Rahmat tertinggal oleh peserta lain
tetapi dia tetap mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Penononton
yang melihat kompetisi itu tidak yakin kalau Rahmat bisa menang karena
Rahmat sudah tertinggal jauh diputaran pertama. Hal ini tidak membuat
Rahmat putus asa, dia yakin bahwa dengan sepeda pemberian kakeknya yang
dipakai sekarang ini dia bisa menang karena semangatnya sudah bercampur
dengan harapan dan impian. Dia pun yakin semangat kakeknya pun ada
didalam dirinya. “Aku pasti bisa”, teriak Rahmat dengan penuh
semangat. Diputaran kedua, Rahmat perlahan-lahan mulai mendekati peserta
lain dan melewati peserta lainnya satu persatu.
Ali berteriak, “Ayooo, aku yakin kamu pasti bisa!!!”.
Dan diputaran terakhir Rahmat sudah pada urutan ke-3, ia terus mengayuh
sepedanya dengan sekuat tenaganya. Saat detik-detik terakhir mencapai
garis finish akhirnya Rahmat pun dapat berada di urutan pertama dan
memenangkan pertandingan ini. Kemudian Rahmat mendapat hadiah berupa
uang sebesar 2 juta rupiah dan voucher makan senilai 500 ribu rupiah di
restoran mewah. Dia bisa memilih mau menukarkan vouchernya dengan uang
atau untuk diapakai makan di restoran mewah. Tapi Rahmat memilih untuk
menukarkannya dengan uang. Rahmat pu sujud syukur atas kemengannya
karena ia sangat bersyukur bisa membantu keuangan keluarganya.
Beberapa saat kemudian setelah acara selesai Rahmat dan Ali pun memulai
perjalanannya pulang kerumah, sebelumnya dia masuk ke toko buku dan
membeli buku banyak sekali dan ditengah jalan dia berbelok ke sebuah
warung makan untuk membeli makanan.
Dan tidak disengaja pula ada
keluarga seorang wirausaha yang menonton kompetisi itu bertemu dengan
Rahmat. Wirausahawan itu bernama Robi, dia sedang makan bersama
keluarganya warung makan tersebut tapi dia bingung kenapa anak itu tidak
memakai vouchernya untuk makan direstoran mewah, malah memilih makan di
warung makan yang sederhana ini. Dan ia melihat anak itu dan temennya
hanya memesan nasi goreng dan tempe penyet. Kedua anak itu makan dengan
lahapnya dan menikmati makanan itu.
Setelah melihat mereka selesai makan
pak Robi pun medekati dan mengajak mereka ngobrol, kemudian pak Robi
bertanya kepada mereka, “kenapa kalian tidak menerima voucher tadi
yang makan di restoran mewah, tapi lebih memilih menukarkan dengan uang
dan makan di warung makan yang sederhana ini?”. Kemudian anak itu menatap pak Robi dan bercerita tentang kehidupannya dan keluarganya yang serba kekurangan. “Pak,
memang saya hidup di keluarga yang biasa, saya memilih untuk makan
disini karena saya lebih bisa menikmati hidup saya dan mensyukuri hidup
ini apa adanya. Dan saya ingat diluar sana masih banyak orang yang tidak
seberuntung saya. Oleh karena itu saya tidak mau menghambur-hamburkan
uang untuk hal yang tidak bermanfaat”, sahut Rahmat. “Lalu, aku
lihat di kardus itu banyak sekali buku. Kenapa kamu membeli sebanyak
itu dan kenapa ada 3 buku yang tidak dimasukkan di kardus?”, tanya
pak Robi. Kemudian Rahmat pun menjelaskan bahwa buku yang ada didalam
kardus itu akan disumbangkan ke sebuah yayasan panti asuhan dan yang
tigak buku lainnya untuk dibacanya sendiri.
Dia pun menjelaskan kalau
kakeknya juga mengajarkan kepadanya untuk selalu berbagi dan selalu jadi
orang yang bermanfaat kepada orang disekitarnya. Harta hanyalah sebuah
titipan Allah, sewaktu-waktu Allah bisa mengambilnya. Yang bisa kita
lakukan yaitu bersedekah dan beramal kepada orang-orang disekitar kita.
Insya Allah rezeki itu akan selalu ada jika kita mau berusaha dan
bekerja keras serta tidak melupakan orang disekitar kita. Mendengar
kata-kata Rahmat membuat Pak Robi termenung dan menyadari bahwa dirinya
yang sekarang masih kurang mensyukuri apa yang ada. Untuk terakhir
kalinya Pak Robi bertanya, “apakah kamu sudah mendapatkan dan merasakan kenikmatan dalam hidupmu?”. Anak itu menjawab, “Alhamdulillah, saya sudah dan masih merasakan nikmat dalam hidup saya”.
Pak
Robi pun agak bingung dengan jawaban anak itu. “kalau boleh tahu nikmat
apa saja itu?” tanya pak Robi. Kemudian anak itu menjelaskan bahwa
nikmat yang dirasakannya yaitu mata, hidung, mulut, telinga, kaki dan
tangan karena dengan itu semua saya masih bisa merasakan bagaimana bisa
melihat, bernafas, berbicara, mendengarkan, berjalan dan membantu orang
disekitarnya. Dan akhirnya pak Robi pun meneteskan air matanya, ia
terharu dengan ucapan anak itu. Dia pun berterima kasih kepada Rahmat
karena sudah meberikannya pelajaran yang berarti dalam hidupnya.
Mohon maaf sebelumnya jika ada salah penulisan kata dan cerita. Semoga
kisah ini memberikan inspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman
yang membaca. Saya harap teman-teman dapat mengambil pesan & amanat
yang ada di cerita ini.
No comments:
Post a Comment